Tantangan dan Dedikasi: Perjuangan Guru di Pedalaman Kampung Morombuy — Pandangan Forapelo Otsus Teluk Bintuni

Guru dan siswa-siswi SD Negeri Morombuy, Distrik Merdey (Foto: Narasumber)
Guru dan siswa-siswi SD Negeri Morombuy, Distrik Merdey (Foto: Narasumber)

 

Video Perjuangan Guru di Pedalaman Kampung Morombuy ( Sumber Facebook) 

Bintuni, Mediaprorakyat.com – Kampung Morombuy, yang terletak di pedalaman Distrik Merdey, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, menjadi tantangan tersendiri bagi para guru yang mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak di sana.

Perjalanan menuju Morombuy sangat berat dan penuh perjuangan. Salah satu rute yang paling umum adalah melalui Kampung Jagiro, Distrik Moskona Selatan, di mana para guru harus naik perahu dan berjalan kaki selama 4 hari 3 malam. Alternatif lain adalah melalui ibu kota Distrik Merdey di Bintuni, namun detail rute ini belum banyak diketahui karena jarang dilalui. Jalur lainnya, melalui jalan buntu, memakan waktu hingga 1 minggu di tengah hutan belantara.

Guru SD Negeri Morombuy saat melakukan perjalanan ke tempat tugas ( Foto : Narasumber)
Guru SD Negeri Morombuy saat melakukan perjalanan ke tempat tugas ( Foto : Narasumber)

Kisah ini diungkapkan oleh Kadir Jailani Jamal, seorang guru yang mengalami langsung perjuangan di daerah terisolir tersebut, melalui akun Facebook-nya dua hari yang lalu. Pak Guru yang telah mengabdikan dirinya di SD Morombuy ini menceritakan betapa sulitnya perjalanan yang harus ditempuh.

“Kampung Morombuy yang jauh di sana, tak apa-apa kalau tunjangan khususnya dihilangkan, karena Morombuy sudah tidak layak lagi mendapatkan tunjangan khusus. Semoga pemerintah setempat bisa membantu agar tunjangan tersebut diberikan lagi supaya kami lebih semangat mengajar,” ungkapnya dalam postingan akun milik Pak Guru Kadir, S. Pd

Saat di konfirmasi, lewat aplikasi whatsapp, Rabu malam (27/6/2024) , Kadir, S. Pd yang baru saja diangkat pada bulan Juli sebagai tenaga P3K Angkatan ke-3, awalnya adalah guru kontrak yang mulai bertugas sejak tahun 2012 yang sebelumnya sebagai guru honor di SMP Negeri Aranday 1.

Pak Guru Kadir sangat berharap agar pemerintah dapat memahami dan memberikan kembali tunjangan khusus yang sebelumnya mereka terima. Tunjangan ini sangat berarti bagi mereka, tidak hanya sebagai penghargaan atas dedikasi mereka, tetapi juga sebagai motivasi untuk terus berjuang demi pendidikan anak-anak di kampung terpencil tersebut.

“Kami berharap tunjangan tersebut dapat diberikan kembali agar kami lebih semangat mengajar dan menghadapi tantangan berat seperti naik dan turun gunung setiap hari,” tambah Pak Guru.

Guru SD Negeri Morombuy saat melakukan perjalanan ke tempat tugas ( Foto : Narasumber)
Guru SD Negeri Morombuy saat melakukan perjalanan ke tempat tugas ( Foto : Narasumber)

” Semoga dengan perhatian dan bantuan dari pemerintah, para guru di Kampung Morombuy dapat terus mengabdikan diri dengan semangat yang tak pernah padam demi masa depan anak-anak di sana, ” Harapnya melalui media ini ketika di wawancara.

Pak Guru Kadir juga mengungkapkan bahwa ia mengajar 59 siswa-siswi di SD Negeri Morombuy bersama rekannya Irfan, S. Pd., Gr.

“Sebenarnya kita ada tiga orang guru, tapi satu orang guru sudah tiga tahun tidak pernah datang mengajar itu, saya sudah laporkan ke dinas tentang itu,” ungkap Kadir.

Video Komentator Ketua Forapelo Otsus Kabupaten Teluk Bintuni, Agustinus Orocomna, SH (Sumber:  Agustinus)

Guru Menghadapi Tantangan Aksesibilitas di Kampung Morombuy, Teluk Bintuni tersebut mendapatkan tanggapan dari Ketua Forum Anak-anak Asli Tujuh Suku Peduli Otonomi Khusus (Forapelo Otsus) Kabupaten Teluk Bintuni, Agustinus Orosomna, SH.

Agustinus mengungkapkan keadaan sulit yang dihadapi oleh penduduk Kampung Morombuy, Distrik Merdey. Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui media sosial beberapa hari lalu, kondisi isolasi jalan dari wilayah bawah Moskona Selatan , hingga Kampung Morombuy, serta dari Distrik Merdey ke Kampung Morobuy, masih menjadi tantangan yang nyata bagi masyarakat setempat.

“Memang benar, masyarakat di sana, termasuk Kampung Morombuy dan Kampung Mekiesefeb, masih menghadapi kesulitan dalam hal akses jalan dan penerangan sejak Kabupaten ini berdiri pada tahun 2003. Ini adalah masalah yang sangat serius karena mereka hidup di daerah terpencil dan terisolir,” ungkap Agustinus, yang juga merupakan putra asli dari Wilayah Moskona.

Menurut Agustinus, perjalanan ke Kampung Morombuy seringkali memakan waktu yang cukup lama dan melelahkan.

“Masyarakat harus menempuh perjalanan berhari-hari, bahkan tiga hari tiga malam, baik dari arah selatan Jagiro maupun dari Distrik Merdey. Mereka masih mengandalkan perjalanan manual dengan membawa barang bawaan termasuk bahan bangunan dan kebutuhan pokok, serta mengandalkan tenaga manusia,” jelasnya.

Agustinus juga mengajak pemerintah daerah untuk lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar di wilayah tersebut, terutama melalui bantuan Dana Desa.

“Kami membutuhkan akses jalan yang layak dan penerangan yang memadai untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal. Ini bukan sekadar keinginan, tetapi kebutuhan yang mendesak sejak lama,” tambahnya.

Kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian ekstra dari pemerintah baik eksekutif maupun legislatif untuk bersama-sama menanggapi dan mengatasi tantangan yang dihadapi oleh penduduk Kampung Morombuy dan sekitarnya.

“,Kami akan terus memantau perkembangan situasi ini dan memberikan informasi lebih lanjut seiring dengan langkah-langkah yang diambil oleh pihak berwenang.” Tegasnya. [HS]

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

https://mediaprorakyat.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot_2023-08-21-22-41-08-24_6bcd734b3b4b52977458a65c801426b0.jpg