Kabupaten Teluk Bintuni: Surga Toleransi di Tengah Kekayaan Alam Melimpah

Teluk Bintuni ( warna merah) adalah kabupaten yang berada di kawasan kepala burung, Pulau Papua. Kabupaten ini berada di dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 0-100 meter di atas permukaan laut. (Sumber : Goggle)
Teluk Bintuni ( warna merah) adalah kabupaten yang berada di kawasan kepala burung, Pulau Papua. Kabupaten ini berada di dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 0-100 meter di atas permukaan laut. (Sumber : Goggle)

Bintuni, Mediaprorakyat.com– Kabupaten Teluk Bintuni di Papua Barat, yang dikenal dengan sebutan “Agama. Keluarga” atau “satu tungku tiga batu,” mencerminkan toleransi tinggi dalam keberagaman agama dan budaya.

Wilayah yang luas ini dihuni oleh penduduk dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam, menciptakan harmoni di tengah keragaman tersebut.

Mayoritas penduduk Teluk Bintuni memeluk agama Kristen (53,86%), dengan perincian 37,32% Protestan dan 16,54% Katolik. Islam dianut oleh 46,04% penduduk, sementara sisanya memeluk Hindu, Buddha, dan agama lainnya dalam jumlah yang lebih kecil.

Secara sosial dan budaya, Teluk Bintuni dihuni oleh tujuh suku asli: Sebyar, Wamesa, Kuri, Irarutu, Moskona, Sough, dan Sumuri.

Masing-masing suku memiliki tradisi dan budaya yang khas, memperkaya kehidupan sosial di kabupaten ini dengan berbagai kegiatan adat yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.

Teluk Bintuni, yang terletak di provinsi Papua Barat, merupakan kabupaten terluas di provinsi ini dengan luas wilayah mencapai 18.637 km². Kabupaten ini berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 dan terus berkembang dengan potensi alam serta demografi yang dimilikinya.

Menurut data terbaru yang dikutip dari Wikipedia, pada akhir tahun 2023, jumlah penduduk Teluk Bintuni tercatat sebanyak 82.404 jiwa, dengan kepadatan penduduk yang rendah, yaitu 4,4 jiwa per km². Kabupaten ini terbagi menjadi 24 distrik, 2 kelurahan, dan 115 kampung, dipimpin oleh Bupati Dr. Ir. Petrus Kasihiw, MT, dan Wakil Bupati Matret Kokop, SH.

Secara ekonomi, Teluk Bintuni dikenal sebagai salah satu penghasil minyak dan gas (migas) utama di Indonesia, dengan ladang gas Tangguh yang dioperasikan oleh British Petroleum (BP). Keberadaan ladang gas ini menjadikan Teluk Bintuni sebagai daerah penting dalam industri migas nasional.

Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Teluk Bintuni yang mencapai 69,01 pada tahun 2023 menunjukkan kemajuan dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.

Hal ini menandakan upaya berkelanjutan pemerintah kabupaten untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan pembangunan infrastruktur yang memadai.

Dengan berbagai potensi yang dimiliki, Kabupaten Teluk Bintuni terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya, menjadikannya contoh daerah yang kaya akan keberagaman dan potensi. [HS]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

https://mediaprorakyat.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot_2023-08-21-22-41-08-24_6bcd734b3b4b52977458a65c801426b0.jpg