Kisah Haji Sakka Sipengumpul Rempah Pala Di Bintuni

Kapal milik Pak Sakka “KM Nur Alam” pernah di sewa oleh mantan Bupati Teluk Bintuni Alfons Manibuy untuk mengangkut barang saat akan memancing ke Arguni Kokas selama 1 minggu dirinya dibayar Rp.50 juta. Dan uang hasil sewa tersebut dirinya gunakan untuk naik haji.

BINTUNI, mediaprorkyat.com – Siapa yang tahu nasib seorang, H. Sakka pria kelahiran tahun 1968 di tanah Barru Sulawesi Selatan dulunya hidup susah kini nasibnya beserta keluarganya berubah lebih baik.

Tentunya semuanya itu dia dan keluarganya raih tidak mudah tetapi melalui perjuangan dan kerja keras melakukan usaha yang dilakoninya bersama anak-anaknya saat ini.

Haji Sakka adalah seorang turunan pelaut ulung dari Tanah Bugis yang diwarisi dari ayah dan kakeknya asal kabupaten Barru Sulawesi Selatan.

Meski hanya duduk di bangku SD dirinya tidak berkecil hati untuk bersemangat memperjuangkan nasib orang-orang yang dia cintai.

Dirinya bersama keluarga tercintanya datang dari Tanah Bugis ke Bintuni atas ajakan seorang temannya untuk merantau ke Bintuni dengan berbekal nekat dengan membawa sebuah kapal kayu.

Dan dia pun berangkat meninggalkan Barru tanah kelahirannya dengan menggunakan kapal kayu berlayar dan selama 14 hari baru berhasil tiba dengan selamat di Bintuni.

Kapal tersebut dirinya kemudikan sendiri hingga sampai ke Bintuni pada tahun 2006. Saat tiba di Bintuni dirinya menjadi seorang nelayan mencari ikan di Teluk Bintuni selama kurang lebih 3 tahun lamanya.

Setelah itu H. Sakka tidak lagi mencari ikan tetapi dirinya membanting stir dengan membuat usaha jasa penyewaan kapal angkutan barang pada tahun 2009 dengan menggunakan KM Nur Alam untuk diantar ke distrik-distrik yang ada di pesisir seperti ke daerah Sebyar, Babo dan Kaitaro serta Sumuri dan Fafurwar.

Harga sewa kapal untuk mengangkut barang ke Tomu atau Aranday biasanya Rp.8 juta, ke Weriagar Rp. 10 juta serta ke Kamundan yang berbatasan dengan kabupaten Sorong Selatan itu harganya Rp. 15 juta hingga Rp. 20 juta.
Sedangkan kalau ke Babo biasanya Rp.8 juta, Kaitaro Rp. 10 juta.

Daerah yang terjauh pernah KM Nur Alam di sewa mantan Bupati Teluk Bintuni Alfons Manibuy untuk mengangkut barang saat akan memancing ke Arguni Kokas selama 1 minggu dirinya dibayar Rp.50 juta. Dan uang hasil sewa tersebut dirinya gunakan untuk naik haji.

Kini kapal penyewaan untuk angkut barang sudah ada 3 yaitu KM Nur alam 01, KM Nur Alam 02 serta KM Nur Alam 03.

Bapak paruh baya beranak 7 dari 2 istri itu sejak tahun 2012 juga membuat usaha pengumpul biji-biji pala kering dan bunga pala dari warga masyarakat yang ada di kabupaten Teluk Bintuni baik yang ada di pesisir seperti daerah Babo, Sumuri, Aroba, Fafurwar, Yakati serta Yensei dan Idoor.

Lalu di daerah pegunungan seperti Merdey, Horna serta Botai dan daerah Isim.
Haji Sakka kepada media ini menjelaskan biji dan bunga buah pala dia dapat dari warga masyarakat pesisir seperti Babo, Kaitaro yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni.

Dari buah pala itu kita butuhkan bijinya dan bunganya. Dan itu diperoleh dari saudara-saudara kita dari daerah Merdey, Isim, Horna, Tahota, Botay, Yakati, Idoor, Yensei, Aroba, Serbey, Suga , Wagura , Tembuni dan lainnya.

Hampir semua saudara-saudara kita dari Teluk Bintuni memiliki kebun pala dan hasil pala biasanya mereka bawa ke tempatnya di Kampung Nelayan Bintuni untuk dijual.

Soal harga biji pala untuk sekarang harganya Rp. 27 ribu per kilo gram untuk pala mentah, Rp. 37 ribu untuk pala biji kering serta Rp.170 ribu untuk bunga pala, tutur Ketua RT 02/RW 03 Kampung Nelayan tersebut.

Bapak yang telah memiliki 4 putra dan 3 putri serta 14 cucu itu saat ini bisa dikatakan sudah sukses dengan memiliki 2 usaha yaitu usaha pengumpul biji pala dan usaha jasa penyewaan kapal untuk mengangkat barang-barang ke daerah atau tempat dimana penyewa hendaki di wilayah pesisir Teluk Bintuni.

Kedua usahanya itu juga sudah ditangani 4 (empat) anak-anak laki-lakinya untuk mengikuti jejak kesuksesan orang tuanya yaitu H. Sakka yang hanyalah seorang lulusan SD bisa memiliki aset rumah mewah di kampungnya di kabupaten Barru Sulawesi Selatan.

Ketika apabila kita melihat kehidupan kesehariannya H. Sakka dan anak-anaknya adalah pribadi yang hidup dalam kesederhanaan seperti warga masyarakat lainnya.

Namun siapa sangka atau mengira H. Sakka yang dulunya hidup susah bersama anak-anaknya itu berhasil dalam menjalankan usahanya di tanah perantauan.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi warga Teluk Bintuni lainnya untuk meraih sukses dalam hidup. (tim/mpr-0 1)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

https://mediaprorakyat.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot_2023-08-21-22-41-08-24_6bcd734b3b4b52977458a65c801426b0.jpg