Napas yang Tertinggal di tanah Papua

Napas yang Tertinggal di tanah Papua

Supaya ko ingat, Indonesia berakhir di sini

Ia berlari-lari sambil mendekap map merah menuju rumah. Tak sabar rasanya menyampaikan berita gembira kepada orangtuanya karena ia lulus dengan nilai tertinggi di sekolah. Sesampainya di depan pintu, Ony berseru kegirangan memanggil mamanya.

“Mama! Mama! Sa dapat juara satu. Lihat! Sa ada bawa sa punya ijazah ini!”

“Mana? Mana? Mama lihat dulu ko dapat nilai berapakah!”

Bu Rebeka bergegas keluar menyambut kedatangan anaknya yang terlihat begitu gembira.

“Mama, sa bisa lanjut sekolah to. Nanti sa bilang Bapa sa mau lanjut di Wasior saja.”

“Ko mau lanjut di mana?” Tiba-tiba Pak Lodwik muncul.

“Ko makan dulu sana.Nanti kita bicara lagi.”

Tanpa berkata apa-apa, Ony melangkah masuk ke kamar. Meletakkan ijazah yang baru saja ia terima dari Kepala Sekolah. Setelah itu, ia pergi ke dapur mencari makanan yang telah disiapkan oleh mamanya.

***

Ony begitu bersyukur memiliki kedua orangtua yang selalu berusaha memenuhi kebutuhannya di tengah hidup mereka yang sebenarnya bisa dibilang serba kekurangan. Mereka selalu bersikap demokratis dalam menghadapi setiap persoalan. Ony tahu sebentar lagi mereka pasti akan membicarakan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan.

“Ony, ko pu orangtua ini su tua dan miskin. Ko su bisa lulus SMP saja kitong su bersyukur. Tapi, kalo ko ingin lanjut sekolah lagi, terus terang Mama dan Bapa su tra sanggup lagi kasih biaya ko punya sekolah nanti.” Pak Lodwik memberikan alasan mengapa dirinya keberatan ketika Ony menyampaikan keinginannya.

Namun, putranya tidak patah semangat. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak ingin seperti orangtuanya kelak, hidup dalam kebodohan dan kemiskinan.

“Bapa, justru karena kitong miskin ini makanya sa ingin lanjut sekolah supaya kitong pu nasib bisa berubah. Kalo kitong hidup begini terus, bagaimana bisa ubah keadaan? Yang ada malah kitong tambah miskin. Kalo sa bisa lanjut, nanti sa selesai langsung cari kerja biar bisa bantu Bapa sama Mama to,” jawab Ony penuh keyakinan dan semangat.

“Trus kitong mo dapat uang dari mana untuk bayar sekolah? Makan saja bapamu harus mencari dulu baru kitong semua bisa makan,” Bu Rebeka menambahkan. Bingung bagaimana harus membayar biaya sekolah Ony nanti.

(Kutipan Buku Napas yang tertinggal di tanah Papua oleh Yayank Maulana hal : 7-8)

*****

Salam penulis

Yayank Maulana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *