Manokwari | Mediaprorakyat.com – Seminar Budaya Tolabema Angkat Filosofi Tongkonan di Manokwari
Ikatan Keluarga Toraja Lahir Besar Manokwari (Tolabema) menggelar seminar budaya bertajuk “Pelestarian Rumah Adat Toraja Tongkonan” di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pada Sabtu (30/8/2025).
Seminar ini menghadirkan narasumber dari kalangan rohaniawan, akademisi, hingga arsitek yang membahas filosofi, arsitektur, serta penerapan teknologi dalam pelestarian rumah adat sebagai warisan leluhur.
Ketua Panitia, Ronald Ampulembang, ST., M.Eng., menjelaskan seminar terbagi dalam tiga sesi utama.
Sesi pertama membahas aspek fisik dan filosofi Tongkonan atau rumah adat kaki seribu, dipaparkan oleh Pdt. Soleman Manguli dan Jos Menjaga.
Sesi kedua menyoroti penerapan arsitektural, disampaikan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Papua Barat melalui Suardi dan Hendriko Tetol.
Sesi ketiga mengulas pemanfaatan teknologi modern dalam menganalisis pola, ukuran, dan ukiran rumah adat, dipresentasikan oleh akademisi dari Bandung yang melakukan riset mendalam.
Menurut Ronald, kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda mengenai benang merah antara nilai leluhur dan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Nenek moyang kita merancang rumah adat bukan sekadar tempat tinggal, tetapi penuh makna dan filosofi. Dengan dukungan teknologi, kita bisa menguraikan pola-pola tradisional sehingga generasi muda tidak kehilangan warisan budaya ini,” ujarnya dalam wawancara di Cafe Tabea, Kamis (28/8/2025).
Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Manokwari, Ir. Appi Pakilaran, menambahkan bahwa seminar ini menjadi bentuk kontribusi nyata masyarakat Toraja perantauan di Papua Barat.
Menurutnya, pelestarian Tongkonan bukan hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga membangun ruang dialog dengan masyarakat adat Papua, khususnya suku Arfak yang memiliki tradisi rumah adat kaki seribu.
Peserta seminar terdiri dari mahasiswa, arsitek, pelajar, hingga masyarakat umum, termasuk perwakilan Toraja, Batak, dan daerah lain di Indonesia.
Karena keterbatasan ruang, panitia hanya membuka 50 kuota peserta, sementara sebagian lainnya mengikuti secara daring.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Papua Barat turut mendukung kegiatan ini sebagai upaya menjaga keragaman budaya Nusantara.
Dalam penutupannya, IKT menegaskan bahwa Tongkonan adalah simbol kesatuan keluarga Toraja yang diwariskan turun-temurun, bahkan bagi generasi yang lahir di tanah perantauan.
“Budaya adalah pemersatu, dan Tongkonan adalah rumah persaudaraan yang mengikat kami sebagai satu keluarga,” tegas Appi.
[red/mpr/js]