Manokwari | Mediaprorakyat.com – Suara keresahan kembali terdengar dari mama-mama Papua penjual pinang di Kota Manokwari. Mereka mengaku semakin terdesak akibat persaingan dengan pedagang non-OAP (Orang Asli Papua) yang turut menjual pinang di kios maupun toko sepanjang jalan utama kota.
Hal itu terungkap dalam perbincangan singkat antara Juru Bicara BEM UNIPA, Theofilus Richard Yogi, dengan salah satu pedagang pinang, Mama Yohana Mofu, di kawasan Fanindi, Manokwari, Kamis (28/8/2025).
Dengan nada getir, Mama Yohana mengungkapkan bahwa penghasilan mereka terus menurun sejak banyak pedagang non-OAP ikut menjual pinang. “Kami ini dari dulu jual pinang, ini pekerjaan untuk hidup. Tapi sekarang, orang lebih banyak beli di non-Papua. Kadang kami pulang bawa pinang yang tidak laku,” ujarnya lirih.
Mama-mama Papua kini kerap harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan pembeli, bahkan sering kali hanya pulang dengan hasil beberapa ribu rupiah. Meski begitu, mereka tetap bertahan karena berjualan pinang adalah satu-satunya cara mencari nafkah.
“Ini tanah kami, pinang juga dari tanah Papua. Kami akan terus jual, meski susah, karena ini hidup kami,” kata seorang mama Papua lainnya di Fanindi dengan mata berkaca-kaca.
Bagi masyarakat Papua, pinang bukan sekadar komoditas perdagangan, melainkan simbol persaudaraan, bagian dari tradisi, sekaligus sumber utama penghidupan. Karena itu, bagi mama-mama Papua, berjualan pinang adalah wujud perjuangan mempertahankan jati diri.
Situasi ini memunculkan keprihatinan publik. Banyak pihak menilai pemerintah daerah perlu turun tangan memberi perlindungan dan dukungan khusus bagi pedagang asli Papua.
Bahkan, DPRK Manokwari didorong untuk segera merumuskan Peraturan Daerah (Perda) yang melarang pedagang non-OAP menjual pinang, demi menjaga keberlangsungan ekonomi mama-mama Papua di tanahnya sendiri.
[red/mpr/js]