Bintuni, Mediaprorakyat.com – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Indayana Bintuni, Edha Sidabutar, S.Gz, membantah berbagai tuduhan yang beredar di media sosial terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa informasi mengenai adanya benda asing di dalam makanan, penggunaan kendaraan distribusi untuk mengangkut sampah, hingga minimnya pelibatan tenaga kerja Orang Asli Papua (OAP), tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Edha kepada wartawan di Bintuni, Kamis (6/8/2026), sebagai klarifikasi atas berbagai isu yang berkembang di masyarakat.
Edha menjelaskan, setiap keluhan terkait kualitas makanan maupun distribusi selalu disampaikan melalui jalur resmi, yakni pihak sekolah sebagai penerima manfaat. Setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti dan dijadikan bahan evaluasi agar pelayanan terus meningkat.
Menurutnya, hingga kini SPPG Indayana belum pernah menerima laporan resmi dari sekolah mengenai adanya benda asing, seperti anting atau cincin, di dalam makanan sebagaimana yang ramai diperbincangkan di media sosial. Sebelum makanan didistribusikan, seluruh menu telah melalui pemeriksaan kualitas, termasuk uji rasa oleh tim SPPG dan perwakilan sekolah.
Terkait keterlambatan distribusi yang sempat terjadi di salah satu sekolah, Edha menjelaskan bahwa penyebabnya adalah berkurangnya jumlah tenaga kerja yang hadir sehingga proses pengemasan memerlukan waktu lebih lama. Setelah menerima laporan, pihaknya langsung melakukan evaluasi terhadap proses distribusi.
Ia juga membantah isu yang menyebut kendaraan pengangkut makanan digunakan untuk membuang sampah. Menurutnya, sampah sebelumnya diangkut menggunakan kendaraan operasional terpisah, dan kini telah ditangani oleh mobil sampah milik Perusahaan Daerah (Perusda).
Dalam hal perekrutan tenaga kerja, Edha menegaskan bahwa SPPG Indayana memprioritaskan masyarakat lokal, khususnya Orang Asli Papua (OAP). Namun, penempatan tenaga kerja tetap mempertimbangkan aspek kedisiplinan, seperti kehadiran dan ketepatan waktu.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, SPPG mengutamakan hasil panen petani serta produk UMKM lokal. Namun apabila pasokan di Teluk Bintuni belum mencukupi kebutuhan produksi harian, sebagian bahan baku didatangkan dari luar daerah agar pelayanan Program MBG tetap berjalan.
Edha menambahkan, seluruh makanan yang diproduksi selalu melalui proses pengendalian mutu oleh tim produksi, ahli gizi, dan petugas distribusi sebelum dikirim ke sekolah. Selain itu, setiap hari SPPG menerima berita acara dari sekolah yang berisi masukan, kesan, dan hasil uji organoleptik sebagai bahan evaluasi.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan agar makanan yang diterima anak-anak selalu aman, bergizi, dan layak dikonsumsi,” pungkas Edha. [tim/hs]








