Bintuni, Mediaprorakyat.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Teluk Bintuni dari Partai Amanat Nasional (PAN), Roy M. Masyewi, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus melestarikan budaya Papua melalui kreativitas sekaligus menjadikannya sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan.
Di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, Roy yang dikenal dengan sebutan Anak Cawat tetap meluangkan waktu untuk membuat berbagai kerajinan tradisional Papua. Mulai dari tifa, noken, mahkota Papua, alat musik tradisional hingga berbagai hiasan bercorak budaya Papua.
Menurut Roy, pelestarian budaya tidak harus dilakukan hanya melalui kegiatan seremonial. Budaya juga dapat dijaga melalui karya nyata yang dibuat oleh masyarakat dan generasi muda.
Ia menilai, keterampilan membuat kerajinan tradisional dapat menjadi salah satu peluang ekonomi yang bisa dikembangkan, terutama di tengah kondisi efisiensi anggaran yang berdampak pada berbagai sektor.
“Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati. Intinya mencintai budaya dan melestarikannya, kemudian kita juga mendapatkan hasil dari karya kita,” ujar Roy, Kamis (30/7/2026).
Roy bahkan menunjukkan salah satu hasil karyanya kepada wartawan. Kerajinan berwarna kuning tersebut telah dibeli oleh Kepala Bagian Protokoler dan saat ini digunakan oleh Bupati Teluk Bintuni dalam salah satu kegiatan resmi.
“Yang warna kuning ini sudah dibeli oleh Kabag Protokoler. Sekarang dipakai oleh Bupati untuk buka acara,” ungkap Roy sambil menunjukkan foto hasil karyanya kepada wartawan.
Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional Papua memiliki nilai ekonomi apabila dikembangkan dengan kreativitas dan kualitas yang baik.
Roy mengatakan, kegiatan membuat kerajinan tersebut juga menjadi bentuk motivasi bagi masyarakat, khususnya warga di wilayah Yensei dan Wamesa, agar tidak hanya menjadi penonton dalam pelestarian budaya, tetapi ikut mengambil bagian melalui karya.
“Jangan hanya kita bicara tentang budaya, tetapi bagaimana budaya itu kita hidupkan melalui karya. Dari karya itu kita bisa mendapatkan penghasilan,” katanya.
Ia berharap generasi muda Papua tidak ragu untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki. Selain menjaga identitas budaya, kreativitas tersebut dapat menjadi usaha produktif yang membantu meningkatkan ekonomi keluarga.
“Kita jangan hanya berpikir untuk mendapatkan penghasilan dari satu bidang saja. Masyarakat harus terus berkreasi dan melihat peluang yang ada, sehingga keterampilan yang dimiliki dapat membantu meningkatkan ekonomi keluarga,” harapnya.
Roy menegaskan bahwa pelestarian budaya harus dimulai dari masyarakat sendiri. Dengan melibatkan generasi muda dalam pembuatan tifa, noken, mahkota Papua dan berbagai kerajinan tradisional lainnya, budaya Papua diharapkan tetap hidup sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. [hs]








