Nabire, Mediaprorakyat.com – Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah, Freny Anouw, mengungkapkan keprihatinannya atas meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Nabire yang disebut telah menembus angka 10.000 kasus. Ia menilai kondisi tersebut sebagai darurat sosial dan kesehatan yang memerlukan penanganan serius dari seluruh pihak.
Menurut Freny Anouw, tingginya angka penularan HIV di Nabire dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah maraknya praktik prostitusi online yang diduga memanfaatkan aplikasi MiChat, serta masih lemahnya pengawasan terhadap peredaran minuman keras (miras).
“Praktik prostitusi online melalui aplikasi MiChat semakin marak. Ditambah lagi dengan konsumsi miras yang tidak terkendali, kondisi ini menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan perilaku berisiko sehingga mempercepat penyebaran HIV/AIDS di Nabire,” ujarnya kepada Mediaprorakyat.com, Kamis (9/7/2026).
KPA Papua Tengah juga menyoroti banyaknya homestay yang diduga dijadikan lokasi praktik prostitusi terselubung. Dalam satu kelurahan, bahkan disebut terdapat lima hingga enam titik yang diduga digunakan untuk aktivitas tersebut.
Selain itu, Freny menilai pengawasan terhadap perizinan usaha penjualan minuman keras masih belum optimal. Menurutnya, masih terdapat izin usaha yang diterbitkan tanpa pengawasan lapangan yang memadai, bahkan diduga tidak sesuai dengan ketentuan zonasi yang berlaku.
Karena itu, KPA Papua Tengah mendesak Pemerintah Kabupaten Nabire bersama aparat penegak hukum untuk segera menertibkan praktik prostitusi online, memperketat pengawasan terhadap peredaran minuman keras, serta mengevaluasi izin usaha yang berpotensi disalahgunakan sebagai tempat aktivitas ilegal.
Di sisi lain, Freny menegaskan bahwa upaya penanggulangan HIV/AIDS tidak cukup hanya melalui penegakan hukum. Pemerintah juga perlu memperkuat edukasi kepada masyarakat, memperluas layanan tes HIV, meningkatkan akses terhadap pengobatan antiretroviral (ARV), serta menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).
“Kita harus menyelamatkan generasi muda Papua. Jangan sampai mereka menjadi korban akibat pembiaran terhadap praktik prostitusi online dan peredaran miras yang tidak terkendali,” tegasnya.
KPA Papua Tengah berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, hingga masyarakat, dapat bersinergi untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS di Nabire dan wilayah Papua Tengah secara umum.
Freny juga menegaskan bahwa secara medis, HIV tidak disebabkan oleh aplikasi maupun minuman keras. Penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman dengan orang yang terinfeksi, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu kepada anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
“Yang kami maksud, MiChat dan peredaran miras merupakan faktor-faktor yang dinilai dapat berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku berisiko. Bukan berarti aplikasi atau minuman keras secara langsung menyebabkan HIV/AIDS,” jelas Freny Anouw, yang juga menjabat sebagai Ketua DPW PPP Papua Tengah.
[hs]








