Wamena, Mediaprorakyat.com – Tim asesmen dari EcoNusa bersama Komunitas Nyaiwerek Kembangkan Potensi Jayawijaya melakukan survei dan asesmen pengembangan potensi kopi di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (28/5/2026).
Kegiatan asesmen dilakukan di lima titik sentra kopi, yakni Musafak, Waga-Waga, Walelagama, Kimbim/Piramid, dan Jagara. Dari hasil survei sementara, di setiap titik ditemukan sekitar 10 hingga 17 kelompok tani kopi yang aktif mengembangkan kopi lokal. Program serupa juga direncanakan akan dilanjutkan di Kabupaten Lanny Jaya.
Asesmen ini bertujuan memetakan potensi kopi lokal, mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi petani, serta mendorong pengembangan ekonomi masyarakat berbasis komoditas kopi di wilayah Papua Pegunungan.
Sekretaris Komunitas Nyaiwerek Kembangkan Potensi Jayawijaya, Kedizon Kogoya, mengapresiasi kehadiran tim EcoNusa yang turun langsung melihat kondisi petani kopi di lapangan.
“Kami sangat berterima kasih kepada teman-teman EcoNusa yang hadir di Papua Pegunungan, khususnya di Kabupaten Jayawijaya, untuk melihat langsung potensi kopi masyarakat,” ujar Kedizon.
Menurutnya, selama ini berbagai organisasi dan komunitas lokal telah banyak berdiskusi mengenai pengembangan potensi daerah, termasuk pemetaan wilayah adat dan penguatan ekonomi masyarakat. Namun, tantangan terbesar masih berada pada pengelolaan dan pengembangan pascapanen kopi.
Ia menjelaskan bahwa petani kopi masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan sarana produksi, alat pengolahan kopi, hingga pemasaran hasil panen.
“Kami akan mencoba melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui Bappeda maupun bupati terkait pengadaan alat seperti mesin babat, mesin pengupas kulit kopi, dan mesin penggiling kopi,” katanya.
Selain itu, Komunitas Nyaiwerek berharap adanya kolaborasi bersama EcoNusa dalam memperkuat pendampingan kepada petani kopi.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Masalah yang dihadapi petani kopi adalah masalah bersama. Karena itu perlu kerja sama antara komunitas, NGO, dan pemerintah agar masyarakat benar-benar merasakan manfaat ekonomi dari kopi,” tambahnya.
Kedizon juga mengungkapkan bahwa salah satu kebutuhan penting masyarakat adalah pembangunan gudang atau tempat penampungan kopi di setiap titik produksi. Menurutnya, keberadaan gudang akan membantu petani menyimpan hasil panen dalam jumlah besar sehingga tidak dijual secara eceran dengan harga rendah.
Ia berharap adanya pendampingan berkelanjutan agar petani tetap semangat memproduksi kopi berkualitas, meskipun harga pasar sering berubah akibat permainan tengkulak musiman.
“Produksi kopi menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat untuk mengurangi ketergantungan kepada pemerintah kampung maupun eksploitasi hutan. Melalui pengembangan ekonomi kopi, masyarakat bisa lebih mandiri,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Asesmen EcoNusa, Yemina, menjelaskan bahwa tujuan kedatangan mereka adalah meningkatkan potensi ekonomi masyarakat melalui pengembangan kopi lokal di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Lanny Jaya.
“Kami sudah beberapa hari turun langsung ke lokasi kebun kopi di beberapa distrik di Jayawijaya. Respons masyarakat sangat luar biasa dan kami melihat potensi kopi di daerah ini sangat besar,” kata Yemina.
Namun demikian, ia menyebutkan bahwa kendala utama yang ditemukan di lapangan adalah persoalan pascapanen, seperti fasilitas pengeringan kopi, pengendalian hama dan penyakit tanaman, hingga ketidakstabilan harga pasar.
“Kalau masyarakat memiliki sarana-prasarana yang memadai dan akses pasar yang baik, kopi lokal Jayawijaya sebenarnya bisa dipasarkan hingga ke luar Papua bahkan ke luar negeri dalam jumlah besar,” jelasnya.
Menurut Yemina, kopi dari Jayawijaya sebelumnya juga telah memiliki pengalaman kerja sama dengan berbagai pembeli, termasuk perusahaan besar seperti Starbucks.
EcoNusa, lanjutnya, siap mendukung masyarakat melalui pelatihan, pendampingan, dan penguatan pemasaran kopi. Namun, untuk kebutuhan alat produksi dan infrastruktur, tetap diperlukan dukungan dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi.
“Kami dari lembaga siap membantu dari sisi pelatihan dan pemasaran. Bahkan jika masyarakat terus berproduksi, kami siap membeli hasil kopi mereka dan mencari buyer nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ke depan akan dilakukan proses traceability atau penelusuran produk kopi guna memenuhi standar pasar internasional.
“Tujuan dari proses traceability adalah agar kopi dari Papua Pegunungan bisa masuk ke pasar internasional dengan standar yang jelas dan berkualitas,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, tim EcoNusa akan menggelar pertemuan lanjutan untuk membahas hasil survei dan menyusun langkah strategis pengembangan kopi di Papua Pegunungan.
[js]








