Mengusung tema “Guyub Rukun Mbangun Karyo, Manunggal Ing Roso” atau Guyub Rukun Membangun Karya, Bersatu dalam Rasa, kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus mempertegas komitmen organisasi dalam menjaga persatuan di tengah dinamika internal.
Ketua Karateker Pakuwojo Teluk Bintuni, Syamsul Huda, dalam sambutannya menegaskan bahwa perjalanan organisasi selama 14 tahun merupakan proses panjang yang penuh pembelajaran.
Menurutnya, Pakuwojo telah tumbuh menjadi wadah pemersatu warga Jawa di Teluk Bintuni, tempat mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, serta menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat luas maupun pemerintah daerah.
“Pakuwojo didirikan bukan untuk kepentingan pribadi ataupun golongan tertentu, tetapi sebagai rumah besar bersama yang menjunjung tinggi semangat gotong royong,” tegas Syamsul.
Ia mengajak seluruh warga keturunan Jawa di Teluk Bintuni untuk terus menjaga kerukunan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan persatuan dan persaudaraan.
Syamsul menekankan bahwa perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal yang wajar dan tidak seharusnya menjadi pemicu perpecahan.
“Perbedaan pendapat adalah keniscayaan dalam sebuah organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan hati, dengan niat tulus, tanpa mengedepankan kepentingan pribadi maupun golongan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Syamsul juga menjelaskan posisi kepengurusan karateker sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), yakni sebagai pengurus sementara yang bertugas menjalankan roda organisasi hingga terbentuknya kepengurusan definitif melalui musyawarah daerah.
Ia menegaskan, kepengurusan karateker tidak boleh dijadikan alat untuk memperpanjang konflik internal.
“Karateker hadir untuk menjaga keberlangsungan organisasi, bukan memperuncing dinamika yang ada,” katanya.
Syamsul turut mengulas perjalanan organisasi, termasuk pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) I pada 9 September 2024 yang saat itu hanya difokuskan pada pembahasan perbaikan AD/ART akibat kondisi organisasi yang belum kondusif.
Upaya pelaksanaan Musda kembali dilakukan pada 2025, namun belum membuahkan hasil karena berbagai kendala teknis dan organisatoris.
Meski demikian, ia optimistis Musda I yang direncanakan dalam waktu dekat dapat terlaksana dengan baik dan menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan organisasi.
“Saya percaya, jika kita semua mengedepankan prasangka baik dan menanggalkan ego masing-masing, maka seluruh persoalan dapat diselesaikan demi kemajuan Pakuwojo,” tambahnya.
Sebagai bentuk nyata kepedulian sosial, rangkaian peringatan HUT ke-14 Pakuwojo juga diisi dengan kegiatan donor darah.
Aksi sosial tersebut menjadi simbol semangat berbagi sekaligus bukti kontribusi nyata Pakuwojo bagi masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni.