Bintuni, Mediaprorakyat.com – Yohanis Akwan menyoroti praktik sejumlah media yang dinilainya kurang cermat dalam menghadirkan narasumber, khususnya dalam pemberitaan isu-isu daerah di Papua Barat. Ia menilai, penggunaan narasumber yang tidak kompeten atau tidak memahami kondisi lapangan dapat menyesatkan opini publik.
Sebagai sosok yang telah lama berkecimpung di dunia media sejak 2008, Yohanis Akwan membangun media yang awalnya berbentuk tabloid hingga bertransformasi ke platform digital melalui Bicarauntukrakyat.co.id. Media tersebut hingga kini aktif mengangkat berbagai persoalan sosial di wilayah Papua Barat.
Selain itu, Yohanis yang juga menjabat sebagai Direktur YLBH Sisar Matiti mengungkapkan keprihatinannya terhadap sejumlah pemberitaan yang tidak memiliki perwakilan atau kontributor di daerah tertentu, seperti di Kabupaten Teluk Bintuni.
Ia mencontohkan, beberapa media justru menghadirkan narasumber dari luar daerah, seperti Kota Sorong atau Kota Jayapura, untuk mengomentari persoalan yang terjadi di Teluk Bintuni.
“Coba kita berpikir realistis, ketika ada pimpinan LSM dari Jayapura menyoroti masalah di Teluk Bintuni, apakah yang bersangkutan benar-benar memahami kondisi faktual di lapangan?” ujar Yohanis dengan nada kritis. Saat di temu di kantornya, SP V, jalur 10 distrik Bintuni, Rabu (8/4/2026)
Ia menegaskan pentingnya media mematuhi Kode Etik Jurnalistik serta berpedoman pada Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. Meski Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia telah memutuskan bahwa karya jurnalistik tidak dapat dipidana, menurutnya tanggung jawab moral tetap menjadi hal utama.
“Pers harus menghadirkan informasi yang mendidik dan berimbang, bukan sekadar cepat tayang tanpa memperhatikan kualitas narasumber,” tegasnya.
Yohanis berharap ke depan media lebih selektif dalam memilih narasumber, terutama untuk isu-isu lokal, agar informasi yang disampaikan benar-benar akurat dan mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat. [hs]









