Manokwari, Mediaprorakyat.com – Di balik senyum bahagia saat menerima gelar Sarjana Hukum (S.H), tersimpan kisah perjuangan penuh haru dari seorang perempuan asal Kabupaten Jayawijaya, Adolvina Matuan.
Adolvina, yang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari sejak tahun 2020, harus melalui perjalanan panjang yang tidak mudah. Perjuangannya bukan hanya tentang mengikuti perkuliahan, tetapi juga bertahan hidup di tengah berbagai keterbatasan.
Dalam keterangannya melalui pesan WhatsApp, Sabtu (28/3/2026), Adolvina mengungkapkan bahwa setiap langkah pendidikannya dibayar dengan kerja keras dan pengorbanan. Ia memilih mandiri dan tidak ingin membebani orang tua di kampung.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus biaya kuliah, ia melakukan berbagai pekerjaan, mulai dari beternak babi, berjualan hasil kebun, hingga membuka kios kecil.
“Saya jalani semua itu supaya tidak membebani siapa pun. Itu komitmen saya sejak awal,” tuturnya.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku sempat berada di titik terendah dan hampir menyerah karena beratnya tekanan hidup yang dihadapi.
“Saya hampir putus kuliah. Banyak sekali tantangan. Semua saya lewati dengan air mata,” ungkapnya.
Di tengah keputusasaan itu, Adolvina kembali mengingat perjuangan sang ibu. Sosok mama menjadi sumber kekuatan utama yang membuatnya tetap bertahan dan bangkit.
Ia teringat bagaimana ibunya harus berjualan di bawah terik matahari demi membiayai pendidikan anaknya. Kenangan itu menjadi penguat tekadnya untuk terus melangkah.
“Saya pikir lagi, kalau saya tidak berhasil, pengorbanan mama itu mau dibayar dengan apa?” katanya.
Doa sang ibu menjadi kekuatan yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan hingga akhirnya mampu menyelesaikan studinya.
Kini, gelar Sarjana Hukum yang diraihnya bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga dipersembahkan untuk sang ibu, keluarga, dan semua perjuangan yang telah dilalui.
“Ini untuk mama, untuk keluarga. Saya ingin membahagiakan mereka,” ucapnya haru.
Kisah Adolvina Matuan menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Keteguhan hati, kerja keras, dan doa menjadi kunci utama dalam menembus segala rintangan hidup.
[js]









