Wamena, Mediaprorakyat.com— Asosiasi Petani Jagung Salim Kabupaten Jayawijaya menggelar pertemuan teknis lapangan guna memperkuat kapasitas kelompok tani dan mendorong pengembangan ekonomi lokal. Pertemuan berlangsung di Jalan Hom-Hom Moai, Kampung Hom-Hom, Distrik Hubikiak, Kamis (19/03/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan ketua kelompok tani jagung dari enam distrik serta didampingi pembina asosiasi. Agenda utama kegiatan ini adalah mengevaluasi perkembangan program, mengidentifikasi kendala di lapangan, serta menyerap masukan dari kelompok tani guna peningkatan program ke depan.
Ketua Asosiasi Petani Jagung Salim, Marinus Dabi, menjelaskan bahwa kelompok ini telah terbentuk mulai dari tingkat kabupaten hingga kampung. Ia menyebutkan, meski belum seluruh perwakilan hadir, pertemuan tetap berjalan dengan fokus pada evaluasi kinerja kelompok dan penguatan koordinasi. “Kami memastikan perkembangan di setiap kelompok serta mendengar langsung kendala dan saran dari masing-masing kelompok petani untuk perbaikan program ke depan,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut juga disepakati harga jual jagung sebesar Rp10.000 per kilogram. Ke depan, asosiasi menargetkan pengembangan kelompok tani hingga 40 distrik dengan dukungan logistik seperti bibit, alat pertanian, hingga fasilitas penyimpanan hasil panen. Saat ini, hasil panen awal telah mencapai hampir satu ton dan ditampung di gudang yang telah disiapkan di wilayah Kota Wamena.
Asosiasi juga membuka peluang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk bergabung tanpa batasan. Marinus menegaskan, pihaknya siap membeli hasil produksi petani dengan harga yang telah disepakati sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat lokal.
Sementara itu, Pembina Asosiasi, Neles Gombo, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya menjawab tantangan ekonomi masyarakat Jayawijaya dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada. Ia menilai, selama ini petani menghadapi kendala utama pada aspek pemasaran hasil produksi.
“Jagung menjadi langkah awal. Jika program ini berjalan baik dan stabil, maka komoditas lain seperti sayuran akan dikembangkan. Ini bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga berharap dukungan dari pemerintah daerah, provinsi, hingga stakeholder terkait agar program ini dapat berkembang lebih luas. Menurutnya, Jayawijaya sebagai pusat ekonomi di Papua Pegunungan memiliki potensi besar untuk menjadi sentra produksi pangan.
Melalui kegiatan ini, asosiasi berharap dapat membangun kesadaran masyarakat untuk kembali mengelola potensi lokal serta memperkuat daya saing ekonomi daerah di tengah tantangan global.
[js]








