Wamena | Mediaprorakyat.com— Ketua Asosiasi Petani Jagung Salim Kabupaten Jayawijaya, Marinus Dabi, S.P., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui Dinas Pertanian atas bantuan sejumlah alat pertanian untuk mendukung peningkatan produksi jagung di wilayah tersebut.
Hal itu disampaikan Marinus Dabi saat diwawancarai media di Wamena, Jumat (6/3/2026).
Ia mengatakan bantuan yang diberikan berupa mesin traktor, dua unit alat cangkul, serta tiga unit mesin perontok jagung sangat membantu aktivitas para petani jagung di sejumlah distrik.
Menurutnya, bantuan alat pertanian tersebut menjadi penyemangat baru bagi kelompok petani jagung untuk terus mengembangkan produksi jagung di berbagai wilayah di Kabupaten Jayawijaya provinsi Papua pegunungan.
“Kami sangat membutuhkan bantuan ini. Dengan adanya mesin traktor dan mesin perontok jagung, tentu menjadi semangat baru bagi kelompok petani jagung untuk terus bekerja dan meningkatkan hasil produksi,” ujar Marinus.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan pengembangan tanaman jagung oleh kelompok petani telah dimulai sejak Juli 2025 dan melibatkan beberapa distrik di kabupaten Jayawijaya. Dari program tersebut, terdapat tujuh distrik dengan 10 kelompok petani jagung yang telah melakukan penanaman dan sebagian telah berhasil melakukan panen Raya.
Distrik yang terlibat antara lain: 1.Distrik Hubikiak (2 lokasi), 2.Distrik Hubikosi (1 lokasi), 3.Distrik Muliama (1 lokasi), 4.Distrik Siepkosi (1 lokasi), 5.Distrik Pisugi (1 lokasi), 6.Distrik Kurulu (3 lokasi), serta 7.Distrik Musalfak (1 lokasi).
Marinus mengungkapkan bahwa beberapa wilayah sudah berhasil melakukan panen dengan hasil yang cukup baik. Di Distrik Hubikiak, hasil panen mencapai sekitar 108 karung jagung, sementara di Distrik Muliama, Kampung Sekom, hasil panen mencapai sekitar 89 karung. Selain itu masih ada beberapa lokasi yang belum dihitung secara keseluruhan karena hasilnya diperkirakan mencapai hampir satu ton lebih.
Ia menambahkan bahwa pada masa panen sebelumnya proses perontokan jagung masih dilakukan secara manual karena belum tersedia mesin perontok. Namun kini para petani merasa terbantu dengan adanya bantuan mesin dari pemerintah.
Meski demikian, Marinus juga mengakui bahwa dalam pelaksanaan program tersebut masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan. Salah satunya adalah kurangnya koordinasi antara pengurus kelompok dan anggota di beberapa titik sehingga sebagian rencana penanaman tidak berjalan maksimal.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi kendala. Hujan deras yang menyebabkan banjir di beberapa wilayah mengakibatkan sebagian tanaman jagung mengalami gagal panen.
“Di beberapa lokasi ada juga yang gagal panen karena hujan deras yang menyebabkan banjir. Namun kami tetap berusaha melanjutkan kegiatan ini dan terus memperbaiki koordinasi di lapangan,” jelasnya.
Ke depan, pihaknya akan terus memperkuat koordinasi antar kelompok petani di setiap distrik dan kampung agar berbagai kendala yang muncul dapat diatasi bersama.
Marinus berharap masyarakat lokal di Kabupaten Jayawijaya mampu meningkatkan produksi jagung dalam jumlah besar sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat kabupaten Jayawijaya secara umum dan secara khusus masyarakat kampung.
Ia juga mengajak generasi muda untuk ikut terlibat dalam pengembangan sektor pertanian, khususnya dalam program kelompok petani jagung yang sedang dikembangkan di wilayah tersebut.
“Saya mengajak generasi muda di setiap kampung untuk aktif mendukung dan mengelola potensi ekonomi lokal melalui program pertanian seperti kelompok petani jagung. Ini penting untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat Jayawijaya,” tutupnya.
[js]









