Bintuni, Mediaprorakyat.com – Badan Pangan Nasional bersama Satuan Reskrim Polres Teluk Bintuni, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Perindakop dan UMKM) Kabupaten Teluk Bintuni, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kabupaten Teluk Bintuni melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) harga sembilan bahan pokok di Pasar Sentral Teluk Bintuni dan sejumlah distributor, Kamis (26/2/2026).
Sidak tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Perindakop dan UMKM Dominggus Patikawa, S.Sos., Kanit III Tipidkor Satreskrim Polres Teluk Bintuni Ipda Cristian Wahyu Pratama, serta Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Godlief Idorway.
Usai memantau harga di tingkat pedagang eceran Pasar Sentral Bintuni, tim melanjutkan pengecekan ke sejumlah agen dan distributor, di antaranya Alam Bersinar, Galaxi Mart, dan Maju Jaya.
Analis Ketahanan Pangan sekaligus Satgas Pangan dari Badan Pangan Nasional, Atlanta Aribowo, didampingi M. Amirul M., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tugas Satgas Pangan pusat untuk memantau kondisi harga dan ketersediaan bahan pokok di daerah.
“Kami bergerak sebagai Satgas pelanggaran pangan dari pusat dan berkoordinasi dengan unsur daerah, termasuk Polres sebagai ketua serta dinas terkait seperti dinas pangan, dinas perindustrian dan perdagangan, serta dinas pertanian sebagai anggota,” ujarnya.
Menurut Ari, pemantauan difokuskan pada sembilan komoditas pangan utama, yakni beras, gula, minyak goreng, tepung, cabai, daging ayam, daging sapi, dan telur. Dari hasil pantauan, harga relatif stabil meski di Teluk Bintuni sedikit lebih tinggi dibandingkan Manokwari.
“Perbedaan harga ini masih tergolong wajar karena adanya tambahan biaya transportasi dari Manokwari ke Bintuni. Ongkos angkut cukup besar sehingga berpengaruh terhadap harga jual,” jelasnya.
Untuk harga beras saat ini berada di kisaran Rp18.000–Rp19.000 per kilogram, sementara daging ayam dijual Rp50.000–Rp55.000 per kilogram. Secara umum, tidak ditemukan lonjakan harga signifikan maupun kendala pasokan di pasar maupun gudang distributor.
Ari menambahkan, sebagian besar kebutuhan pokok di Teluk Bintuni didatangkan dari luar Papua, seperti Jawa dan Sulawesi. Distribusi dilakukan melalui jalur laut dari Sorong dan jalur darat dari Manokwari. Biaya pengiriman dari Jawa ke Papua pesisir dapat mencapai sekitar Rp20 juta per kontainer, sedangkan dari Manokwari ke Bintuni satu kontainer dipecah menjadi beberapa truk dengan biaya sekitar Rp5 juta per truk.
“Jika dihitung, biaya dari Jawa ke Manokwari dan dari Manokwari ke Bintuni hampir sama. Inilah yang membuat harga di Bintuni berbeda dengan daerah lain. Namun setelah kami lihat langsung, harga masih dalam kategori wajar,” ungkapnya.
Satgas Pangan pusat memiliki Surat Keputusan (SK) hingga 31 Desember 2026 dan saat ini difokuskan pada pengendalian harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Idul Fitri 2026.
Selain pemantauan lapangan, pemerintah juga menggunakan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan sebagai acuan dalam memantau perkembangan harga dan inflasi pangan secara nasional maupun daerah.
Terkait komoditas yang mengalami kenaikan seperti cabai, Ari menyebut faktor cuaca dan tingginya curah hujan di tingkat petani menjadi penyebab utama turunnya produksi sehingga harga meningkat secara nasional.
“Jika kenaikan sudah terjadi di tingkat produsen, tentu sulit ditekan. Namun bila masalah ada di tingkat distributor, kami bisa memfasilitasi agar distributor terhubung langsung dengan produsen atau penggilingan di Jawa,” jelasnya.
Dari hasil sidak tersebut, Satgas Pangan menyimpulkan bahwa kondisi ketahanan pangan di Kabupaten Teluk Bintuni terbilang cukup baik. Stok tersedia, harga masih terkendali, serta tidak ditemukan gejolak di masyarakat terkait harga bahan pokok.
[hs]










