Kontroversi Tradisi Coret-coret Seragam di Kalangan Pelajar Bintuni: Antara Perayaan dan Pemborosan

Gambar yang sengaja diburamkan oleh Mediaprorakyat.com menunjukkan sejumlah pelajar yang asal sekolahnya tidak diketahui sedang melakukan aksi mencoret-coret seragam sekolah, pada Senin, 6 Mei 2024.
Gambar yang sengaja diburamkan oleh Mediaprorakyat.com menunjukkan sejumlah pelajar yang asal sekolahnya tidak diketahui sedang melakukan aksi mencoret-coret seragam sekolah, pada Senin, 6 Mei 2024.

Bintuni, Mediaprorakyat.com -Tradisi mencoret-coret seragam sekolah menjadi pemandangan umum setiap kali siswa SMA merayakan kelulusan. Namun, di Bintuni, fenomena ini mulai memicu kontroversi di antara masyarakat.

Aksi coret-coret seragam, yang dianggap menyenangkan oleh sebagian siswa, menuai kritik dari pihak lain yang menilai tindakan tersebut sebagai pemborosan.

Di Tahiti, Kelurahan Bintuni Timur, Distrik Bintuni, beberapa siswa terlihat melakukan coret-coret seragam saat merayakan kelulusan, Senin (6/5/2024).

Seorang pemuda yang juga baru lulus empat tahun lalu dari salah satu sekolah SMA di Bintuni menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap tradisi ini.

Ia menilai coret-coret seragam sebagai bentuk pemborosan, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit.

“Saya tidak pernah setuju dengan budaya ini, dan orang tua saya juga sudah mewanti-wanti agar tidak melakukannya sebelum kami tamat,” ungkap pemuda yang tidak ingin disebutkan identitasnya.

Sambungnya, “Kami dulu tidak mampu membeli seragam dan harus meminta seragam dari kerabat yang sudah lulus. Coret-coret seragam itu benar-benar pemborosan. Jika memang sudah tidak mau dipakai lagi, seragamnya sebaiknya diberikan kepada yang lebih membutuhkan,” tambahnya .

Ia mengisahkan pengalamannya saat lulus, di mana ia dan teman-temannya mengumpulkan pakaian dan membagikannya kepada masyarakat yang membutuhkan.

Ia percaya bahwa ada banyak cara lain untuk merayakan kelulusan tanpa harus mencoret-coret seragam, seperti mengisi buku kenangan atau meminta tanda tangan di buku.

“Kami lulus bersama teman-teman, kemudian bekerjasama untuk mengumpulkan pakaian dan membagikannya kepada masyarakat yang membutuhkan,” ceritanya.

Pendapat ini mencerminkan pandangan beberapa kalangan yang merasa bahwa tradisi coret-coret seragam bisa diubah menjadi aksi sosial yang lebih bermakna.

” Menyumbangkan seragam yang tidak lagi digunakan kepada mereka yang membutuhkan adalah alternatif yang dianggap lebih bermanfaat bagi masyarakat. ” tandas pemuda itu. [HS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

https://mediaprorakyat.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot_2023-08-21-22-41-08-24_6bcd734b3b4b52977458a65c801426b0.jpg