banner 728x250

Penantian Panjang, Dari Zaman Belanda Sampai Sekarang Baru Ada Jembatan di Merdey

banner 468x60
  • Keterangan Gambar : Zakarias Ogoney Melaksanakan Prosesi Adat Moskona Sebelum Dilakukan Peresmian Jembatan Sungai Meyof Oleh Bupati Teluk Bintuni. 

BINTUNI, Mediaprirakyat.com – Peresmian Jembatan Sungai Meyof, Distrik Merdey, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat oleh Bupati Teluk Bintuni Ir. Petrus Kasihiw, MT., Senin (12/12) di awali dengan prosesi Adat Suku Moskona yang di bawakan oleh Kepala Suku Besar Moskona.

Foto Bersama.

Pantauan wartawan media ini, Zakarias Ogeney, S.KM sebagai Kepala Suku Besar Moskona bersama dua tokoh masyarakat Moskona membentangkan Kain Timur ( Kain Adat) di luar jembatan yang belum diresmikan , Zakarias dengan menggunakan bahasa daerah Moskona melantunkan Kata-kata seperti pantun hingga selesai dan menyerahkan acara berikut kepada Panitia peresmian jembatan Meyof.

banner 336x280
Kepala Suku Besar Moskona Zakarias Ogoney saat di wawancara oleh Mediaprorakyat.com

Seusai kegiatan peresmian jembatan saat di temui wartawan, Zakarias Ogoney menjelaskan maksud dan ujuan saya memakai bahasa adalah bayar tanah adat kepada leluhur yang sudah mendahului kita , dan nama -nama yang saya sebutkan itu adalah nama-nama pejuang sejak masih zaman Belanda.

Kepala Suku menceritakan, tadi saya menyebut dua tokoh yaitu Bapa Cita dan Bapa Biscoop dalam bahas daerah Moskona, ” Bapa Biscoop yang punya anak Bapak Daniel Asmorom Anggota DPRD Provinsi Papua Barat , dan Bapa Cita punya anak Seknus Ogoney yang menjadi pegawai di Badan Pemberdayaan Perempuan sebagai Kepala Seksi, ” terangnya.

Dua tokoh inilah , pernah berdinas pada pemerintah Belanda dan sekaligus dua tokoh ini sebagai tokoh Agama. Ia menyebutkan, Bapak Biscoop Agama Protestan , Bapa Cita Agama Katolik, namun pada masa peralihan masuk juga Gereja Tim atau Persekutuan Alkiab Indonesia di wilayah Moskona.

” Jadi kita meminta kepada leluhur agar kita dijaga, jembatan yang baru diresmikan ini di jaga jangan sampai rusak, karena kami akan susah kalau jembatan rusak, ” ungkapnya.

Ia juga mengisahkan, dulu orang Belanda pikul seng , pikul barang dari Mogoi Baru sampai berhari-hari hingga disrik ini (Merdey) jadi.

” Dulu orang tua kami itu pakai jembatan rotan , jadi mereka menyeberang cari rotan untuk bikin jembatan, saat kami masih anak-anak kami pakai perahu sampai dengan hari ini,” ucapnya.

Ia menerangkan, sebelum jembatan ini jadi dan diresmikan pada hari ini , untuk menyeberang kita harus sewa longboat dengan biaya yang cukup mahal.

” kalau kosong , kita sewa lima ratus ribu , kalau bawa barang satu hilux itu tujuh ratus dan kami bersyukur untuk Tuhan hari ini Jembatan sudah jadi dan masyarakat tidak mengalami kesulitan lagi karena sudah ada akses sudah menghubungkan enam distrik ini, ” ungkapnya.

Setelah Jembatan Sungai Meyof diresmikan di wilayah Moskona ini sudah ada dua jembatan ,yaitu Jembatan Kali Sebyar yang menghubungkan Distrik Moskona Selatan dengan Distrik Moskona Barat itu.

” Jembatan Kali Sebyar diresmikan pada tahun 2019 itu dibagian muara , dan dibagian kepala air , ini baru diresmikan , ” Jelasnya.

Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah Kabupaten Teluk Bintuni dan Pemerintah Provinsi Papua Barat , karena telah di bangun dua akses jembatan di wilayah Moskona ini. Akan tetapi kami masih meminta kepada pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan Provinsi Papua Barat agar akses jalan juga segera di buka dan diselesaikan .

” kami meminta dukungan pemerintah supaya jalan aspal atau jalan cor Bisa sampai ke distrik Moskona Utara dengan Moskona Timur , Lanjut ke Moskona Utara Jauh itu harapan kami dan jalan yang belum tembus ini harus bisa tembus di tahun 2023 , karena ada lima belasan kilo dari masing – masing distrik ini belum tembus walaupun ada perusahaan yang sudah bekerja , ” kami minta kepada pemerintah agar segera memprogramkan agar jalan segera tembus , ” pintanya.

Pada prinsipnya kami masyarakat Moskona sangat mendukung pemerintah untuk melakukan pembangunan , terutama jalan prinsipnya agar mereka tidak jalan kaki lagi .

” Pak terus terang saja selama ini dana desa atau dana kampung itu pasti di gunakan untuk membangun rumah , tadi bapak lihat dari Kampung sebelah , itulah dana kampung digunakan kepala kampung untuk membangun.
Tapi kendalanya masyarakat pikul seng misalnya Kampung -kampung yang berjauhan dari distrik ini itu mereka pikul seng satu lembar seratus ribu , cukup jauh lima sampai enam kilo dengan sendirinya dana kampung itu digunakan untuk ongkos pikul , semen pun begitu. Kalau bisa tiga sampai empat ratus ribu per zak waktu itu. ” terangnya.

Jadi secara tegas Kepala Suku Besar Moskona mengatakan pembangunan kita dukung , dan kami juga tidak memaksa pemerintah Kalau anggaran cukup kami minta agar pemandangan jalan segera dikerjakan.

Saya juga mengharapkan kepada pemerintah , perhatiannya jangan hanya untuk enam distrik di atas , tetapi juga beberapa distrik yang ada di bawah mulai dari distrik Tembuni , Mayado , Moskona Selatan , Moskona Barat harus diperhatikan juga Pembangunan disana.

” disana sudah ada jalan tapi itu di buat oleh perusahaan HPH , Arta Mas kalau bisa harus ada peningkatan karena hampir dua puluh tahun ini mereka tidak ada akses , ada akses jalan tapi itu punya Arta Mas , maka perlu diperhatikan.” Pungkasnya. (mpr-01)

 

banner 336x280
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.